| |
Jarum jam menunjukkan angka 11 saat saya datang ke Permata, sebuah gedung bioskop tua di bilangan jalan Sultan Agung, Jogjakarta. Di Sabtu siang itu ada sekitar sepuluh orang penonton yang bersama saya menunggu loket dibuka. Semuanya laki-laki, kebanyakan usianya berkisar di kepala tiga. Tujuan kami sama, The Otherside of Doll, sebuah film Hongkong angkatan 90an. Di ruang tunggu yang sempit untuk ukuran gedung bioskop itu saya sempat girang ketika melihat poster film Indonesia. Ada Pulau Hantu, Kuntilanak 2, Pocong 3 dan Get Married. Namun saya cuma mengelus dada setelah mendengar penjelasan Jamzuki, proyeksionis (pemutar roll film) yang sudah dua puluh tahun bekerja disini. ?Belum tentu bakal main, mas? katanya sambil tertawa kecut. Setelah membayar lima ribu untuk menebus tiket , saya masuk ke teater. Tiga ratus lima puluh kursi, hanya terisi sekitar empat puluh saja. Jangan bayangkan ada kursi empuk dan angin sejuk. Gantinya adalah kursi kayu dengan bantalan busa tipis yang membuat pantat panas serta kipas angin yang tak mampu mengusir hawa panas, sepanas poster film yang terpampang di ruang tunggu. Saya terkejut sekaligus miris ketika mendengar penjelasan Subagyo, pengelola bioskop Permata tentang fasilitas ruang teater yang begitu semenjana. ?AC dan sebagian soundsystem saya jual untuk menutup biaya operasional yang kadang tidak sebanding dengan pemasukan? kata mantan ?juragan? tiga belas bioskop yang tersebar di berbagai kota di Jawa Tengah ini. Untuk sekali pertunjukan saja, Subagyo hanya bisa mengantongi antara 150 ribu sampai 200 ribu saja. Itupun masih dipotong pajak tontonan sebesar 11 persen. Jadi keuntungan bersih tiap pertunujkan berkisar antara 135 ribu sampai 180 ribu saja.
Sambil menunggu film siap putar serta penonton lain datang , lagu-lagu Indonesia top 40 didengarkan untuk mengusir rasa bosan. Suaranya jauh dari merdu. Saya keluar sebentar menemui salah seorang portir tiket, Eddi, begitu dirinya biasa dipanggil. Setelah basa-basi sebentar, dirinya menuturkan kalau tiap pertunjukan rata-rata ada 30-40 penonton. Itu di jam 11.00 dan 15.00, jam yang paling banyak penontotnnya. Sedangkan di jam 17.00, 19.00, dan 21.00 jumlahnya bisa kurang dari itu. Apalagi jika musim hujan, dipastikan penonton akan sepi. ?Pernah cuma tujuh penonton tapi kita tetap muter, mas?, kata Eddi, yang juga merangkap sebagai penjaga parkir ini. Tiba-tiba Edddi menghampiri saya sambil berbisik dalam bahasa Jawa. ?Seks-? apik,mas !?, katanya meyakinkan. Saya tahu apa maksudnya, kami pun lalu tertawa bersama... Ya, film-film panas memang menjadi menu andalan bioskop yang di malam hari terkenal dengan lesehan gudegnya ini. Persoalan distribusi film yang kacau membuat bioskop Permata mengalihkan pilihan ke film-film pengumbar syahwat untuk menjaga proyektor tetap berputar. Pasokan film datang dari distributor PT. Multi Graha Mandiri (MGM) Film yang ada di Semarang dengan sistem sewa Setelah masa putar selesai, film dikembalikan lagi ke distributor untuk kemudian diedarkan lagi ke kota-kota lain seperti Wonosobo dan Magelang. Jadi jangan heran saat film diputar banyak gambar yang stretch seperti kena gores karena film tersebut sebelumnya sudah diputar berulang kali di bioskop lain. Untuk variasi, sebulan sekali diputar film Hollywood. Film Indonesia ? kita harus puas hanya melihat posternya saja.
Subagyo selaku pengelola bioskop ini mengeluhkan produser film nasional yang tidak mau peduli pada bioskop-bioskop sekelas Permata. Dahulu saat masih ada Departemen Penerangan, bioskop-bioskop di luar jaringan 21 masih mungkin memutar secara bersamaan film-film yang diputar di bioskop-bioskop jaringan 21. Tapi karena saat ini ada monopoli, maka bioskop-bioskop sekelas Permata mesti menunggu giliran. Itupun belum tentu bakal mendapat kopi film. Produser film nasional, lanjut Subagyo, tidak mau melirik bioskop seperti Permata karena mereka tidak yakin penonton, terutama usia muda, bakal mendatangi bioskop tersebut. ?Padahal tidak semua orang mampu beli tiket di 21?, ujar Subagyo.
Mungkin Permata bukan tandingan sinepleks 21, tapi Permata punya sesuatu yang mungkin tidak dipunyai jaringan bisokop milik pengusaha Sudwikatmono itu. Ikatan sejarah, ya itu yang membuat Permata masih punya penonton setia seperti mbah Atmo. Kakek yang usianya sama dengan Sumpah Pemuda ini selalu menyempatkan diri menonton di bioskop Permata. Berbicara dalam bahasa Jawa, dirinya meyebutkan kalau dia menjadi penonton tetap bioskop ini semenjak harga tiketnya 250 rupiah hingga saat ini yang seharga 5000 rupiah. Bioskop ini menurut mbah Atmo adalah tempat hiburan favoritnya selama tiga zaman, mulai zaman Orde Lama, Orde Baru hingga saat ini. Alasannya sederhana,?Regine murah?, katanya dalam bahasa Jawa yang berarti harga tiketnya murah. Dulu dirinya sering menonton beramai-ramai dengan teman-temannya. Namun, sekarang bapak tiga anak ini hanya menonton seorang diri karena teman-teman seperjuangannya sudah meninggal dunia. Sejarah pula yang membuat bioskop ini dijadikan salah satu lokasi pengambilan gambar film Gie garapan Riri Riza. ?Waktu adegan si Nicholas naik becak sama pacarnya (Sita Nursanti, -pen)?, kata Subagyo bangga. Arisitektur Bioskop Permata memang masih kental dengan nuansa jaman baheula karena berdiri sejak tahun 1950-an.
Sebagai bagian penting dalam distribusi film, kiranya keberadaan bioskop Permata perlu mendapat perhatian terutama para produser film Indonesia. Bagaimana mau memasyarakatkan film-film Indonesia kalau soal distribusi saja masih terkesan pilih kasih. Mengulang penjelasan Subagyo selaku pengelola bisokop ini, tidak semua orang mampu menebus tiket di sinepleks 21 bukan ?.(fakhri)
dibuat oleh Fakhri Zakaria, alumni SMPN 4 Bogor lulusan 2002, sekarang menyelesaikan studi di jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Jogjakarta. Aktif di Surat Kabar Mahasiswa UGM "Bulaksumur Pos". Tulisan ini adalah "oleh-oleh" dari riset pra-produksi dalam rangka pembuatan film dokumenter Intan di Permata (meraih piala Rektor UGM dalam Lomba Film Dokumenter "Realita Kehidupan Islam di Jogja" yang diadakan oleh Jama'ah Sholahudin Masjid Kampus UGM pada 19 September lalu).......monggo pinarak ke Jogja...
|